Pengalaman Patricia di Summer Program GKS for ASEAN Countries’ Science and Engineering Students 2019

19 Sep 2019

“Arsitektur tidak cukup hanya belajar dari buku maupun gambar-gambar di internet.” Itulah yang membuat Patricia Marissa, berkeinginan mempelajari dan merasakan langsung arsitektur secara langsung di luar negeri sehingga dapat membuka wawasannya mengenai dunia arsitektur. Keinginan itu terwujud saat mahasiswa angkatan 2016 itu bersama 196 mahassiswa lain dari 10 negara ASEAN mengikuti Program Global Korean Scholarship (GKS) for ASEAN 11 Juli 2019 – 14 Agustus 2019. GKS for ASEAN merupakan program beasiswa (fully-funded) dari Pemerintah Korea Selatan, yaitu National Institute for International Education (NIIED) dibawah Kementerian Pendidikan Korea Selatan yang bekerja sama dengan 6 universitas swasta di Korea Selatan, yaitu Chosun University (Mechanical Engineering, Photonics Engineering), Chung-Ang University (Electrical and Electronics Engineering), Chungnam National University (Animal Science & Biotechnology), Keimyung University (Architecture & Civil Engineering), Kyungwoon University (Aeromechanical Engineering, Aviation IT Convergence), dan Mokpo National Maritime University (Marine Engineering).  

Bersama 29 mahasiswa lain dari 8 negara berbeda (Indonesia, Thailand, Vietnam, Myanmar, laos, Malaysia, Filipina, dan Kamboja), Partricia berkesempatan merasakan atmosfir berkuliah di Korea Selatan di Keimyung University yang terletak di Kota Daegu, Korea Selatan selama 5 minggu. Banyak yang dipelajarinya terkait dengan arsitektur dan teknik sipil, seperti Desain Struktur Tahan Gempa, Desain Seismik, Arsitektur Biomimikri, Arsitektur & Film, Perceptual Sketch & Form, Shake Table Test, Material Testing, Aqualibrium, Arsitektur & Budaya, Arsitektur Digital, dan lain sebagainya. Meskipun materi-materi tersebut sudah pernah diajarkan di universitas masing-masing, tetapi menurut Patricia, adanya diskusi dari peserta tentang hal yang telah dipelajari di negara masing-masing membuat perkuliahan menjadi menarik. Selain itu, topik presentasi bangunan UNESCO Heritage dari masing-masing negara juga membuat kebanggaan tersendiri bagi seluruh mahasiswa karena dapat memperkenalkan bangunan bersejarah di negaranya kepada peserta dari negara lain. 

Tak hanya belajar tentang arsitektur, di sana Patricia juga belajar mengenai budaya Korea Selatan, seperti Taekwondo, alat musik tradisional Samulnori, K-Pop Dance, Hanbok & Traditional Courtesy, Bahasa Korea, Sejarah Budaya Korea, dan Korean Movie. Setiap hari Jumat para mahasiswa diajak mengikuti field trip, mengunjungi landmark atau partner institution di sekitar Kota Daegu. Minggu pertama, mereka diajak mengunjungi Kota Tua Daegu yang sudah diubah menjadi Modern Culture Street, yaitu Yangnyeongsi Museum of Oriental Medicine, Gyesan Cathedral, House of American Christian Missionary Chamness, Old House, dan Daegu First Presbyterian Church, kemudian mengunjungi Daegu Safety Theme Park, dan Daegu Chimac Festival, yaitu festival makan ayam tepung goreng dengan saos pedas yang khas dimana merupakan makanan khas Daegu. Di minggu kedua, mereka mengunjungi Kota Ulsan, mengunjungi Hyundai Motors, Hyundai Heavy Industries, dan Ulsan Petroglyph Museum, melihat jejak kaki dinosaurus dan ukiran-ukiran tebing peninggalan zaman batu di Bangudae, Ulsan. Di minggu ketiga, mereka mengunjungi Kota Gyeongju dan Kota Pohang, melihat berbagai jenis rumah tradisional Korea yang sangat estetis di Yangdong Village, Gyeongju. Setelah itu kami mengunjungi POSCO Company dan Pohang Canal. Minggu terakhir mereka, mengunjungi Gyeongju Historical Site (Cheonmachong dan Daereungwon Tomb Complex), Gyeongju National Museum, dan Bulguk-sa Temple, yang bagi Patricia sangat menarik. Baginya, peninggalan-peninggalan sejarah zaman dinasti yang ada di Kota Gyeongju karena sangat indah, menarik untuk dipelajari, dan masih banyak yang bagus kondisinya meskipun sudah tertimbun tanah selama bertahun-tahun.

Di luar jam kuliah dan field trip, Patricia menghabiskan waktunya mengeksplorasi kota Daegu, mencoba makanan dan minuman khas Korea di beberapa shopping street dan cafe, dan mengunjungi Downtown di daerah Banwoldang (Dongseongno-ro) untuk melakukan wisata kuliner. Pada akhir pekan, Patricia dan teman-temannya mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Daegu, seperti The Arc, Donghwasa Temple, Gatbawi Buddha Stone, Daegu Stadium, Seomun Market, arsitektur terkenal di Soul, seperti Dongdaemun Design Plaza (Karya arsitek wanita terkenal Zaha Hadid), Namsan Tower, Hongdae Shopping Street, Myeondong Shopping Street, Lotte World Tower (Bangunan tertinggi di Korea Selatan), Cheonggyechon Stream (Restorasi sungai menjadi Public Space), Starfield Library COEX Mall, Gyeongbokgung Palace, Gwanghwamun Plaza, Insa-dong, Ewha Woman’s University, dan Bukchon Hanok Village, dan Haedong Yonggungsa Temple, Oryukdo Skywalk, dan Gamcheon Culture Village di Busan. Mengunjungi berbagai kota membuat Patricia belajar tentang desain kawasan perkotaan di Korea Selatan dan  sistem transportasi yang sudah terintegrasi dengan baik antara bus dan subway maupun dengan public areanya, sehingga kota-kota tersebut sangat ramah turis. 

Tidak ada kendala yang berarti bagi Patricia selama mengikuti program GKS for ASEAN tersebut. Dia merasa sangat senang dan bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk mengikuti program tersebut, belajar di Keimyung University, Daegu, Korea Selatan. Belajar bersama teman-teman dari mancanegara dan profesor-profesor hebat, membuat memori baru untuk dikenang, mendapat ilmu dan pelajaran kehidupan yang tidak didapatkannya di tempat lainnya menjadi bekal berharga bagi masa depannya. Oleh karena itu, dia sangat merekomendasikan teman-teman mahasiswa arsitektur maupun mahasiswa program studi teknik lainnya di Universitas Krsiten Petra untuk berpartisipasi dalam program ini tahun depan. "Kalahkan rasa takut dan jangan sampai melewatkan kesempatan berharga ini," pesan Patricia.

 


Close previewer